Secuil Catatan dari Seoul oleh Virliana (Pemenang Lomba Esai dalam Bahasa Korea 2018)

by San

“We are arriving at Incheon International airport in 10 minutes”.

Ketika terbangun dari bangku pesawat, satu kalimat itu telah membuat hati aku bergetar dan membayangkan betapa indahnya Korea selatan yang selama 6 tahun tidak aku kunjungi. Korea selatan adalah salah satu negara yang saat ini sedang booming di berbagai kalangan karena K-pop, K-drama, K-food dan lain-lainnya. Tak heran jika banyak kalangan telah menirukan gaya dari artis-artis Korea dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Boleh dibilang, Korea memang memiliki ciri khas yang dapat menarik berbagai orang tanpa batas usia dari banyak negara.

Dengan menjuarai lomba menulis esai ini aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri Ginseng Korea selama 15 hari. Awalnya memang tidak menyangka bakal memenangkan kompetisi tersebut, namun puji Tuhan, saya dapat meraih juara 1 dan memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Korea serta mendapatkan sebuah TV dari perusahaan LG Electronics Indonesia.

Selama di Korea aku telah reuni dengan teman-teman SD dan juga SMP. Mereka telah memasuki universitas sesuai dengan potensi mereka masing-masing dan ada juga yang sedang menjalani kewajiban militer. Aku juga telah mengunjungi berbagai tempat wisata yang berada di Korea khususnya daerah ibu kota Seoul. Aku telah mengunjungi Gyeongbokkung (salah satu istana tradisional Korea), Namsan Tower, Myeongdong dan juga Hongdae Street.

Gyeongbokkung adalah salah satu istana tradisional yang tersisa di Korea selatan. Ketika mengunjungi istana itu aku bertemu dengan beberapa turis yang berasal dari berbagai negara. Mereka mengenakan Hanbok (baju tradisional   Korea)   dan   asyik memotret momen   bersama   keluarga dan teman-teman mereka di   lokasi tersebut.   Untuk singkat cerita, Istana ini termasuk dari 5 istana besar dan merupakan yang terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Istana Gyeongbok aslinya didirikan tahun 1394 oleh Jeong do jeon, seorang arsitek. Istana ini hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun lagi selama tahun 1860-an dengan 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar. Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi, Istana Gyeongbok adalah simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea. Setelah pembunuhan Maharani Myeongseong oleh mata-mata Jepang pada tahun 1895, Raja Gojong meninggalkan istana ini bersama anggota keluarganya yang lain dan tidak   pernah   kembali.

Pada   tahun 1911, pemerintahan Jepang yang menjajah Korea menghancurkan semua bangunannya kecuali 10 bangunan utama, dan membangun Bangunan Pemerintahan Utama Jepang untuk gubernur jenderal Korea di depan Ruangan Tahta. Bangunan utama dari Istana Gyeongbok termasuk Geunjeongjeon, Ruangan Tahta Raja (yang merupakan warisan nasional Korea Selatan nomor 223) dan Paviliun Gyeonghoeru (warisan nasional nomor 224) yang memiliki kolam bunga teratai dan bertiangkan 48 buah tonggak granit. Istana Gyeongbok saat ini dibuka untuk umum dan Museum Nasional Rakyat Korea (National Folk Museum of Korea)   berdiri di dalamnya. Banyak rakyat Korea yang berharap pemerintahnya dapat mengembalikan bentuk asli istana. Berkat kerja keras arkeolog, 330 bangunan berhasil dibangun kembali.

Keindahan Gyeongbokkung sangat sulit untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Istana itu sangat anggun, megah dan tenang. Saya lihat pihak sekuriti juga mementingkan ketenangan di dalam   istana,   sehingga   suasana   di   istana   sangat   hening   dan   tenang,   dapat   mendukung   untuk   menikmati keindahan struktur dan estetika yang terdapat di dalam istana tersebut.

Berikutnya yang saya kunjungi adalah Namsan tower atau yang disebut pula dengan Menara Seoul N yang sebenarnya adalah sebuah pemancar radio yang terletak di Seoul. Menara ini dibangun pada tahun 1969, dan dibuka untuk umum pada tahun 1980. Tinggi menara ini mencapai 236.7 m (777 kaki) dari dasar dan berada di ketinggian 479.7 m (1.574 kaki) di atas permukaan laut. Menara ini juga dinamai Menara Namsan atau Menara Seoul saja. Namun, setelah pemilik menara bekerja sama dengan CJ Corporation, menara ini dinamai Menara Seoul N (nama resmi Menara Seoul CJ). Kebanyakan pengunjung menara ini datang dengan cara menaiki kereta gantung Namsan untuk menuju ke sana, lalu berjalan kaki sampai ke menara. Di menara ini terdapat toko oleh-oleh dan sebuah restoran di lantai bawah. Pengunjung harus membayar ketika naik ke atas menara.   Terdapat   pula empat balkon   pengamatan (di balkon   pengamatan   ke-4,   terdapat restoran   berputar, dan berputar sekali selama 48 menit), dan juga toko oleh-oleh dan dua restoran di atasnya.

Dari atas sana, pengunjung dapat melihat hampir seluruh kota Seoul. Di dekatnya juga terdapat menara transmisi. Di salah satu tempat yang berlokasi di Myeongdong adalah ‘Seoul Global Cultural Center’. Center tersebut berdiri di tengah daerah Myeongdong yang sangat ramai. Fungsi dari center ini adalah untuk memberi wawasan secara budaya, pakaian dan lain-lain kepada pengunjung luar negeri. Mereka menyediakan berbagai program kelas. Saat aku di sana, aku sempat mengikuti salah satu kelas yaitu ‘Hanji Gongye’ yang artinya kertas tradisional Korea. Selain kelas Hanji, juga ada kelas K-pop bagi yang tertarik dengan budaya K-pop dan tariannya. Center ini sangat menarik dan mampu memberi wawasan dan menambah teman baru, karena peserta dari setiap kelas semuanya adalah berstatus WNA sehingga dapat mendapatkan teman di Korea selatan.

Selama 15 hari di Korea, aku merasa sangat cukup untuk berkeliling dan melihat berbagai budaya khas yang dimiliki oleh Korea. Oleh karena itu, aku berharap melalui karya-karya dari lomba INAKOS, banyak mahasiswa mahasiswi lain termotivasi untuk mengikuti kompetisi dan mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri Ginseng. Ilmu tak ada habisnya dan bagi yang berusaha akan mendapatkan hasil sesuai usahanya.

 

Meyta Virliana Yuniar ~ Prodi Bahasa Korea

Vocational School UGM

 


About the Author


San


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *